Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 10 November 2011

DE JAVU

De Javu..
Aku merasa kembali ke masa laluku, masa dimana aku merasakan sebuah gelora yang menggebu serupa lahar yang keluar dari perut bumi, menggelegak lava di dalamnya.

Hanya saja....
Hanya saja....

Ah aku enggan mengatakannya

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi kepada diriku?
Kenapa harus kamu?
Dari bermilyar laki-laki kenapa harus kamu?
Kenapa?
Bagaimana mungkin ini masih disebut cinta jika menyakiti?
Bagaimana mungkin ini cinta jika ada hati yang terbebani?
Bagaimana mungkin ini cinta jika membuat perut mulas melilit?
Bgaimana mungkin ini cinta jika yang terasa selebihnya hanya luka?
Inikah cinta?
Yang membuat debaran dada mengencang?
Nafas tidak beraturan
Tenggorokan tercekik.

Tiba-tiba aku merasa menjadi wanita pakling tidak tau diri sedunia.
Paling tidak wajar sedunia.
Aku merasa bahwa aku adalah kotoran yang ingin hodup menjadi manusia.

I'm sorry....

Selasa, 01 November 2011

Kenapa Kamu???


Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa terjadi hal sememmalukan ini?
Dulu, saat kita pertama bertemu.
Tak pernah aku memimpikan ha ini terjadi.
Memikirnya pun tak pernah terlintas sedikit pun di benakku.
Rasa ini tumbuh dengan sendirinya, dengan kehendaknya.
Sumpah demi nama Tuhan penguasa rasa kasih, tidak pernah sedikit pun aku menginginkan pilihan ini jatuh kepadamu.
Aku beenar-benar tidak tahu bagaimana cara hati ini menyeleksi tentang siapa yang dia pilihkan untuk ku cintai.
Untuk selalu kukenang wajahnya sesaat sebelum terlelap.
Untuk selalu kutasbihkan namanya di dalam setiap doaku.
Untuk selalu kukhawatirkan keadaannya.
Untuk kuberikan setetes tangis haru ketika bahagia.
Aaah sudahlah
Toh dia sudah disini, di debar dadaku.
Tenanglah, dia akan segera kuusir dari sini.
Aku menyesal, kenapa harus kamu??

Kemarin lusa, aku bermimpi.
Di mimpi itu, aku memimpikanmu.
Di sana kamu masih baik padaku.
Bahkan berjanji untuk main ke kotaku, ke rumahku.
Namun, sebelum kamu sempat berkunjung ke rumahku.
Aku mendengarmu berkata padaku bahwa aku harus menghentikan perasaanku.
Dan berlalu sejauh mungkin yang aku bisa.
Dengan muka yang cukup gusar.

Apakah itu sebenarnya yang kamu rasakan terhadapku?

Apakah kamu sekarang memiliki daya untuk mengendalikan mimpi-mimpi yang singgah di tidurku?

Sebenarnya, mengetik ungkapan hati di blog ini pun, aku merasa agak lucu.
Benarkah kamu?
Benarkah hati ini mendaratkan pilihannya di kamu??